Berburu Soto Pa Salam - Kuliner Bogor

Penasaran setelah mendapat kabar dari teman dan cari di internet kalo di Bogor ada soto bogor yang enak banget, maka perburuan pun dimulai :)

Soto "Pa Salam", terletak di Suryakencana, daerah pecinaan di Bogor, dapat diakses pake angkot 02, dan jalanannya sangat macet terutama di depan bogor plaza. Setelah cari referensi dari temen dan internet gue mulai menyusuri jalan suryakencana, untung temen gue bawa motor jadinya mudah, coba kalo naik angkot pasti macet banget, kalo jalan kaki…hmm pasti pegel. Sebulan yang lalu udah sempat mau nyari karena udah kemaleman sekitar jam 9 katanya udah abis jadinya dibatalkan.


Jl. Suryakencana

Dengan berjalan lambat menyusuri Jl. Suryakencana, gue celingukan nyari tempatnya katanya deket dunkin donuts. Sepanjang jalan banyak yang jual sate babi dan makanan mengandung babi…idiih..menjijikkan. Dari kejauhan terlihat plang dunkin donut dan benar di sana tempatnya Soto Pa Salam. Tempatnya di pinggir jalan di atas trotoar dan sangat kecil berada di kiri jalan diseberang Bank Mandiri Suryakencana.


Soto Bogor Pa Salam

Buset dah yang antri banyak banget, baik orang pribumi maupun cina. Banyak yang beli dibungkus atau makan di mobil karena ngga dapet tempat. Mau duduk juga susah, harus nunggu giliran. Nunggu 10 menit, akhirnya maksain aja masuk setelah ada yang selesai. Orang yang jualan orang sunda jadi mudah2an tidak mengandung babi. Di depan meja disediain bermacam jeroan sapi dari tampilan lebih bersih dari soto2 bogor yang lain yang ada deket terminal. Selain jeroan dan daging sapi ada juga perkedel, semur kentang yang dibuat seperti sate dan semur....Jengkol...gubrak..buset dah jengkol disemur ditusuk kaya sate...

Setelah liat - liat sebentar gue pilih paru dan picungan semacam babat berwarna putih dan lebih tipis dibandingkan babat plus perkedel. Kita tinggal pilih sendiri dan taruh di mangkuk. Jangan harap setelah milih bakal cepet disajikan, karena nunggu antrian dulu. Sekitar 15 menitan baru pesenan gue dihidangkan ditambah nasi putih dan teh tawar. Setelah mencampur dengan kecap, jeruk dan sambel baru gue cicipin kuahnya...hmmm lumayan. Kuahnya cukup kuat rasanya dibandingkan soto bogor lainnya. Rasa jeroannya juga lebih enak dan bersih. Namun sayang sambalnya kurang pedas, harus nambah sekitar 7 sendok sambal baru terasa pedas. Gue makan dengan cepat karena banyak yang antre nunggu dan udah Maghrib,dengan 2 potong jeroan, perkedel dan nasi gue membayar Rp.12.000. Rata - rata per potong jeroan Rp.4000-4500. Setiap orang yang selesai bayar, pedagangnya selalu mengucapkan "selamet"... tau dah maksudnya apa, dan ada pembeli yang nanya "selamet kenapa pa?" Kata penjualnya "yah mudah2an selamet di jalan". Oh ya istilah lain yang dipake ama penjualnya : "Out" untuk mengatakan jeroan yang sudah abis. "Jackson" untuk menyebut semur jengkol...gedubrak, karena dari pertama gue ada disitu sering banget nyebut jackson ternyata... :)

Akhirnya penasaran gue terjawab juga ngga terlalu istimewa sih cuma patut dicoba, sayang tempatnya kecil jadinya makan ngga bisa tenang :) Temen sempet tanya-tanya sama pengunjung di situ, yang katanya minimal sebulan 2-3 kali pasti makan soto ini,hmm ngga takut kolesterol tuh si bapak padahal udah tua. Pas ditanya apa yang bikin istimewa dia cuma bilang beda aja dari soto bogor yang lain. Biasanya buka mulai jam 17.00, sekitar 19.00 biasanya udah abis.

Demo Mahasiswa Anarkis...STUPID !!!!!

Abis baca berita di detik.com (24 Juni2008) dan liat2 foto aksi demo menuntut penurunan BBM. Cuma yang sangat - sangat disayangkan kenapa sampai rusuh???!!!!


Menambah sulit hidup yang sudah sulit para mahasiswa sekarang ini. Itu susahnya kalo otak ditaro di kaki,ngga bisa mikir. Ngeliat demo mahasiswa sekarang sama bencinya ngeliat tawuran anak SMA. Waktu tahun 1997/1998 gue juga ikut demo nuntut Soeharto turun, tapi ngga pernah terpikir untuk bikin rusuh atau merugikan orang lain.

Memangnya dengan membakar mobil, menutup jalan, BBM akan turun???tidak, pemerintah tidak seperti itu. Bukan maksud membela pemerintah, gue juga ngga respek dengan SBY - JK dan tentunya si Bakrie. Tapi bukan begitu caranya, dengan menyusahkan orang lain. Mengatasnamakan rakyat????berani bertaruh sebagian besar dari mereka juga ngga peduli dengan sekitarnya kalo ada yang kesusahan...Untuk mahasiswa yang suka demo anarkis .....GUOBLOGGG BANGET SIH LOE........@#$!^&^#@()@*#&@(^!_(#&^#(*@&

Death Magnetic

I've just read on encycmet.com that metallica already have the title for their new album


Here is the report :
Metallica's new album will be titled "Death Magnetic" and is expected in September via Warner Bros. The news was revealed over the weekend via the band's Web site. "Death Magnetic" was produced by Rick Rubin and is the follow-up to 2003's "St. Anger". It will also be the first with Rob Trujillo on bass
Source : www.encycmet.com

I can't wait to hear that

Temukan Roy Suryo - Google Ngambek??

Maaf, Google tidak mau lagi menemukan Roy Suryo, daripada nantinya dibilang salah kutip.
Hua..hua..hua..lucu juga nih kreatif

Coba buka http://www.google.com
terus ketik "temukan roy suryo" tanpa tanda kutip
klik tombol "saya lagi beruntung"

maka hasilnya :
Maaf, Google tidak mau lagi menemukan Roy Suryo, daripada nantinya dibilang salah kutip.

Awalnya gue baca email di yahoogroups & ada yg posting tentang ini dan ternyata benar. Karena penasaran browsing lagi dengan kalimat tersebut akhirnya nemu deh sumbernya : http://temukanroysuryo.co.cc/

He..he.. mungkin karena si Roy Suryo sering kasih komentar tanpa dasar makanya banyak yang sebel...
jangan bicara tanpa ada ilmunya...

Info lebih lanjut kunjungi : http://temukanroysuryo.co.cc/dukung.htm

Malang - Taman Hilang, Ruko Berganti

Jika Thomas Karsten masih hidup, mungkin dia akan terkaget-kaget melihat Kota Malang saat ini. Betapa tidak, kota yang dulu dia rancang sebagai kota taman, sekarang telah berubah menjadi kota ruko (rumah toko).

Apa mau dikata, seperti kota-kota lainnya di Indonesia, Malang juga tergilas roda pembangunan yang cenderung menghamba pada kepentingan ekonomi semata. Hingga tahun 1970-an, warga Malang masih bisa menikmati kemolekan kota ini. Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim, misalnya, masih ingat, setiap kali membuka pintu pada pagi hari, dia bisa melihat kabut dan embun. Dia juga masih bisa mendengar kicau burung gelatik dan suara jangkrik. Sekarang semuanya tinggal kenangan.

”Saya sudah lama kehilangan yang namanya kicau gelatik,” kata Ratna yang sejak kecil tinggal di Malang.

Ungkapan senada disampaikan Budi Sugiarto, dosen studi perencanaan wilayah dan tata kota dari Universitas Brawijaya. Dulu, katanya, kota ini penuh dengan taman bunga, kanal, dan danau kecil nan cantik. Jika menghadap ke barat, orang bisa melihat jajaran pegunungan yang bentuknya seperti putri tidur.

”Sekarang, taman-taman sudah berubah jadi mal dan perumahan elite, sementara pemandangan ke arah gunung terhalang bangunan tinggi,” ujarnya.

Menurut Budi, Karsten awalnya merancang Malang sebagai kota taman (garden city). Area untuk taman dan ruang terbuka mencapai 60 persen dari luas kota. Sisanya digunakan untuk area fungsi, seperti permukiman, perkantoran, dan perdagangan. Tahun 2000 luas taman yang tersisa tinggal sekitar 2 persen. Ke mana taman yang lainnya?

Taman-taman tersebut sudah lenyap tergilas roda pembangunan. Taman Indrokilo di belakang Museum Brawijaya telah berubah menjadi kawasan permukiman elite. Taman Wilis kini menjadi kios pedagang buku. Taman Jalan Veteran dan Taman Jalan Galunggung sekarang menjadi pompa bensin. Terakhir, sebagian ruang terbuka di Kompleks Stadion Gajayana disulap menjadi Mal Olympic Garden.

Ruko-ruko baru juga terus bermunculan di daerah yang dulunya ruang terbuka. Saking gencarnya pembangunan ruko, sampai-sampai anak muda memelesetkan slogan ”Kota Malang Ijo Royo-royo” menjadi ”Kota Malang Ijo Ruko-ruko”.

Pembangunan yang dilakukan secara serampangan seperti ini membuat kualitas lingkungan Malang merosot. Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Karangploso Malang mencatat, sepanjang kurun waktu 1990 hingga 2006, suhu di Malang meningkat 0,050 derajat Celsius setiap tahun. Suhu maksimum tahun 1990 29,1-33,2 derajat Celsius. Tahun 2006, pernah dicapai 33,8 derajat Celsius. Tidak heran jika udara Malang yang dulu sejuk sekarang terasa gerah.

Malang yang seharusnya tidak banjir pun sekarang banjir. Menurut Budi, secara teori, Malang tidak seharusnya banjir karena kota ini dibelah beberapa sungai, antara lain Kali Berantas, Kali Bango, Kali Amprong, dan Kali Metro. Banjir terjadi karena danau kecil dan situ banyak yang lenyap. Padahal, itu penting untuk parkir air hujan sebelum masuk ke sungai.

Autis

Perubahan wajah kota secara berangsur-angsur juga mengubah karakter warganya. Ketika zaman penjajahan Belanda, kata Budi, londo-londo yang bermukim di sekitar Jalan Ijen umumnya senang bersosialisasi. Karena itu, rumah mereka tidak dipagari agar mereka bisa dengan mudah saling berkunjung. Kadang mereka membuat pesta kebun di bulevar Ijen sambil dansa-dansi.

Sekarang, kata Budi, penghuni kawasan itu umumnya tinggal dengan dunia masing-masing. Rumahnya pun dibatasi dengan pagar-pagar tinggi.

Ratna menambahkan, sifat egaliter dan guyub dulu terasa begitu kental di kalangan warga Malang. ”Kita tahu dan kenal siapa orang yang tinggal di sekitar kita,” katanya.

Sekarang, lanjut Ratna, warga Malang, khususnya di kalangan anak muda, seperti orang autis yang sibuk dengan dunianya sendiri dan cuek dengan lingkungan sekitar. Mereka terhanyut gaya hidup metropolis seperti anak- anak muda lainnya di hampir semua kota besar di Indonesia. ”Ngomong-nya pun sudah pake lu gue kayak orang Jakarta,” katanya.

Fenomena metropolis memang kian terasa kuat di Malang. Ada semacam kebutuhan di kalangan anak muda Malang untuk berpenampilan sama seperti anak muda di Bandung, Jakarta, dan Surabaya. Karena itu, sebagian dari mereka selalu mengikuti apa pun yang tengah menjadi tren di ketiga kota itu.

Bagus Oktavianus, manajer band indie Malang, Chrom, mengatakan, untuk urusan penampilan, anak muda Malang sekarang berkiblat ke Bandung. ”Banyak anak muda yang merasa nggak oke (penampilannya) kalau belum memakai pakaian buatan Bandung,” katanya.

”Beberapa tahun lalu, cewek- cewek Malang juga meniru rambut model poni yang lagi nge-tren di Bandung,” tambah Bagus.

Tidak heran, distro-distro yang menjual produk-produk Bandung terus bermunculan sejak tiga tahun lalu di Malang. Untuk menarik minat, distro-distro itu sengaja diberi nama dengan embel- embel Bandung, seperti Distro Bandung Sport 4 U L (baca: four you all).

”Invasi” gaya hidup Bandung juga menggelinding ke wilayah makanan. Sejak dua tahun belakangan, warga Malang akrab dengan yang namanya roti bakar bandung, batagor, cilok, tahu sumedang, mi kocok bandung, hingga serabi bandung. Pokoknya, makanan yang sedang atau pernah nge-tren di Bandung dibawa ke Malang.

Di bidang musik, kata Bagus, band-band indie Malang juga merujuk ke Bandung meski Malang tahun 1970-an pernah menjadi barometer musik rock Indonesia. ”Secara umum, banyak band indie di sini yang ingin memiliki komunitas yang solid seperti di Bandung. Tapi, kami belum berhasil,” ujar Bagus.

Bagi Ratna, fenomena di atas menunjukkan betapa anak muda di Malang mulai kehilangan jati diri. ”Mereka mulai tidak pede dengan identitasnya sebagai Arek Malang,” katanya.

Apa mau dikata, orang Malang sudah telanjur masuk jebakan kapitalisme yang mendorong keseragaman. ”Arus kapitalisme memang sulit dibendung, tapi kalau kita cerdas, kita bisa menelikungnya,” kata Ratna.

Caranya, lanjutnya, dengan mempertahankan kultur Arek Malang yang egaliter. Jika tidak, Malang akan makin tergilas.

Oh tidaaak…! (Dahlia Irawati)

Source : http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/25/00385785/taman.hilang.ruko.berganti

Malang - Dulu Rock, Sekarang Aremania

Tahun 1970-an, rock menjadi ikon Malang. Kini, giliran Aremania yang menjadi ikon. Sebagian besar pemuda di Malang—bahkan yang tidak suka sepak bola pun— mengidentifikasi dirinya sebagai Aremania. Kok bisa?

Komunitas pendukung klub sepak bola Arema Malang ini seolah lahir begitu saja pada tahun 1990-an seiring perkembangan klub swasta Arema Malang. ”Tidak ada yang membentuk Aremania karena komunitas ini terbentuk dengan sendirinya. Siapa pun yang mencintai Aremania boleh ikut meski bukan orang Malang,” kata Yuli Sumpil, dirigen Aremania.

Sampai sekarang, komunitas ini dibiarkan cair, tanpa struktur, ketua, apalagi pembina. Maksudnya agar Aremania tidak tersusupi kepentingan tertentu. Aremania tidak ingin seperti komunitas suporter sepak bola di kota lain yang menjelang pemilu bisa diubah menjadi mesin politik. Hanya dengan mempertahankan karakternya yang cair itu, lanjut Yuli, Aremania bisa berkembang dan melekat di hati Arek Malang.

Mengapa Aremania mudah diterima di hati Arek Malang? Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim mengatakan, karakter Aremania sesungguhnya mewakili sifat Arek Malang yang egaliter, guyub, kuat rasa persaudaraannya, dan terus terang. Karena itu, Arek Malang dengan senang hati mengidentifikasi dirinya sebagai Aremania.

Komunitas ini juga masih mempertahankan tradisi untuk berbicara dengan bahasa walikan yang kata-katanya dieja dari belakang. Mas menjadi sam, singo edan menjadi ongis nade, saya menjadi ayas, arek malang menjadi kera ngalam. Cuma kata kodok yang tak mungkin dibolak-balik karena hasilnya tetap kodok juga.

Bagi Fahmi Haris (29), manajer band CCCC, Aremania menjadi semacam identitas khusus bagi anak muda Malang yang kini hidup di zaman global yang serba seragam. ”Kalau bicara arek-arek, mungkin kita sama dengan Arek Suroboyo, Arek Kediri, Arek Tulungagung. Tapi, kalau sudah bicara sepak bola kita beda. Kami tidak mau disamakan dengan bonek (bondo nekad) sebab kalau nonton bola kami semuanya bayar,” ujar Fahmi.

Fahmi melanjutkan, Aremania juga menjadi sebuah tempat untuk memperjuangkan visi bersama, yakni membela kebenaran. Pernyataan Fahmi ini seolah menemukan aktualitasnya ketika kita menengok sejumlah kaos Aremania. Beberapa kaos bertuliskan kecaman dan kritik keras terhadap kinerja PSSI di bawah pimpinan terhukum Nurdin Halid.

Sources : http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/25/00391460/dulu.rock.sekarang.aremania

Malang - Kota Bertemunya Tiga Lembah

Malang, kota seluas 110,06 kilometer persegi di Provinsi Jawa Timur, mempunyai letak geografis yang sangat strategis. Herman Thomas Karsten, arsitek Belanda yang membangun Malang, melukiskan Malang sebagai daerah yang indah.

Terletak di perbukitan, sekitar 85 kilometer sebelah selatan Surabaya, kota ini semenjak dahulu beruntung karena letaknya yang baik. Di kota ini bertemu tiga lembah yang masing-masing mempunyai jalan dan sungainya. Dari arah barat laut lewatlah Kali Brantas, dari utara ada Kali Bango, dan dari timur Kali Amprung. Lembah keempat mempertemukan tiga sungai, tetap mengambil Kali Brantas, menuju selatan.

Jika mau dirunut jauh ke belakang, sejarah Kota Malang dimulai dengan terbentuknya dataran tinggi Malang pada tahun 6752 SM. Lalu zaman bergerak dan muncullah kerajaan-kerajaan mulai dari Kanjuruhan, Singhasari, hingga Majapahit. Namun, Malang sebagai gemeente (kotamadya) ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 April 1914, yang selanjutnya ditetapkan sebagai hari jadi Kota Malang.

Handinoto dan Paulus H Soehargo dalam bukunya, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Malang (1996), menyebutkan, pada awal Kota Malang lahir, peran alun-alun sebagai pusat administrasi dan kontrol produksi sangatlah kuat. Dulu, hampir semua kegiatan produksi ekonomi terkumpul di sana. Saat ini, pembangunan Kota Malang sudah menyebar ke semua arah.

Bangunan bersejarah

Ada banyak simbol sejarah yang menyertai perjalanan dan perkembangan Kota Malang, salah satunya adalah patung Ken Dedes di Jalan Balearjosari. Dalam buku berjudul Malang, Telusuri dengan Hati (2007) karangan Dwi Cahyono disebut, arca Ken Dedes yang ditemukan di kompleks candi Singhasari itu membuktikan, Malang memang merupakan pusat kerajaan besar di wilayah Jawa.

Bangunan bersejarah di Malang yang saat ini masih dipertahankan antara lain rumah penduduk di perumahan-perumahan seperti di Jalan Diponegoro dan Jalan Soetomo. Cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim termasuk warga yang membiarkan rumah tuanya di Jalan Diponegoro persis seperti lebih dari 50 tahun lalu.

Bangunan lain yang masih asli adalah Toko Oen di Jalan Basuki Rahmad. Tempat ini kerap menjadi tempat kongkow turis asing. Hotel Pelangi di Jalan Merdeka Selatan III interiornya juga masih asli, seperti tegel-tegel dinding bergambar pemandangan Belanda. Hotel tertua di Malang yang dibangun tahun 1915 ini awalnya bernama Palace Hotel.

Penanda-penanda kota ini membuat Malang menjadi khas. Bahkan, patung penyair Chairil Anwar yang asli Medan itu justru ada di Malang, di Jalan Basuki Rahmad. (IVV/BSW)

Source : http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/25/00382733/kota.bertemunya.tiga.lembah

Malang - Kerbau Itu Dikira Kambing

Seperti apa Malang tempo dulu? Bagaimana tata kotanya, kultur masyarakatnya? Lewat ”Malang Old Festival” atau ”Festival Malang Kembali” di Jalan Ijen, Kota Malang, 22-25 Mei 2008, warga Malang diajak masuk ke sebuah ”lorong waktu”, mengecap suasana masa silam, mulai zaman Kanjuruhan hingga Kolonial. ”Malang Kembali” mengajak warga untuk kembali ke jati diri.

Puluhan ribu warga memenuhi Jalan Ijen selama festival berlangsung. Acara ini selain menjadi ajang klangenan mengenang masa lalu juga menjadi semacam ruang sosial untuk berinteraksi. Sekelompok anak muda mengenakan batik, asyik berbincang sambil lesehan makan orem- orem, makanan khas Malang terdiri dari ketupat yang diguyur kuah tempe plus lauk telur asin atau ayam goreng. Beberapa lelaki berusia lanjut, juga mengenakan batik, duduk bersila melingkar di satu sudut warung.

”Ayo mampir, ngemut (mengulum) permen gulali warisannya Mbah Kakung (kakek),” rayu penjual gulali kepada pengunjung yang lewat. Gulali dianggap sebagai makanan masa lalu lantaran saat ini sudah sulit dijumpai, atau bahkan tidak ada lagi penjualnya. Gulali ini semacam permen lolipop, tetapi lembek. Penjual baru akan menyendok gulali dari nampan dan membubuhkannya ke ujung gagang permen begitu ada pembeli memesan. Dulu, penjual gulali biasa berkeliling dari kampung ke kampung.

Berbagai jenis makanan dan minuman dijual di gerai-gerai yang dibangun di trotoar Jalan Ijen sisi kiri dan kanan sepanjang 750-an meter. Selain gulali, ada pula jenang grendul (jenang coklat terbuat dari beras ketan), gula kacang, hingga tiwul dan gatot (terbuat dari singkong). Selain makanan yang langka ditemui, dijual pula makanan khas Malang, seperti orem-orem tadi.

Segala hal yang berbau masa lalu atau khas Malang ditampilkan. Ada gerai penjualan uang lama, sepeda ontel, buku serta majalah tua. Di gerai kawasan Majapahit, ditawarkan pelatihan membuat keris, wayang, gerabah, serta arca.

Suasana pun sebisa mungkin dibikin seperti masa lalu. Orang- orang berpakaian lurik dan sewek (kain batik) lengkap dengan belangkon mondar-mandir di seputaran arena. Sejumlah orang mengenakan pakaian ala zaman kolonial Belanda sambil menyandang bedil. Mereka mengendarai sepeda ontel tua, mengelilingi arena.

Oh ya, di zaman ini sawah pun dianggap kuno. Panitia membuat satu petak sawah lengkap dengan tanah gembur, tanaman padi, serta kerbau. Agar suasana lebih ndeso, panitia memasang poster bergambar pemandangan pegunungan.

Banyak pengunjung begitu girang berfoto dengan latar belakang sawah dan poster pemandangan yang bercap salah satu sponsor itu. Ada yang berdiri sambil bergaya sedang menunjuk ke suatu tempat jauh. Sebagian dari mereka juga begitu takjub ketika melihat kerbau.

”Eh, ono (ada) wedus kambing,” teriak seorang cewek saat melihat seekor kerbau dan gudel (anak kerbau) di dekat sawah-sawahan itu. Beberapa cewek lalu berpose bersama kerbau yang dikira kambing itu.

Agaknya, sudah menjadi sebuah fenomena global jika anak- anak zaman sekarang tidak lagi mengenal asal muasal nasi yang mereka makan. Tidak hanya di kota metropolitan seperti Jakarta, tetapi juga di Malang yang berpenduduk sekitar 807.000 jiwa. Padahal, lahan sawah di Kota Malang masih seluas 1.444 hektar, tersebar di empat kecamatan dari lima kecamatan. Hanya di Klojen yang tidak ada sawahnya (Kota Malang dalam Angka, 2007).

Tahu sejarah

”Kami ingin semua orang Malang mengerti betul sejarah Malang,” kata penggagas sekaligus Ketua Panitia Festival Malang Kembali (FMK) Dwi Cahyono. Dwi berani menegaskan hal itu karena ia melalui Yayasan Inggil miliknya pernah melakukan survei dan ternyata 90 persen rakyat Malang tidak mengetahui persis kelahiran kotanya.

Pada FMK pertama tahun 2006, Dwi memilih tema kelahiran Kota Malang (1914-1942). Pada tahun 2007 ia meneruskan dengan tema perjuangan Kota Malang (1942-1947). Tahun ini, Dwi ingin membahas posisi Malang dalam sejarah nasional, mulai terbentuknya dataran tinggi Malang pada tahun 6.752 SM, lantas berdirinya kerajaan-kerajaan, hingga masa kolonial tahun 1947.

Tahun ini, panitia mendapat kucuran dana Rp 500 juta dari APBD Kota Malang, sejumlah sponsor, serta uang administrasi pengisi gerai Rp 100.000 per gerai.

Dwi berharap, ajang ini bisa menjadi cantelan untuk menata kota Malang ke depan menjadi lebih baik. Penataan kota akan menjadi pas jika pihak yang menata mengetahui persis kelahiran kotanya dengan jelas.

Sejarah, menurut Dwi, harus disampaikan dengan cara menghibur jika mau didengar. ”Itulah mengapa kami memakai kemasan kuliner, kerajinan, ludruk, keroncong, dan karawitan,” tutur Dwi.

Kelompok kesenian pencak silat, seperti Kerajaan Temor Kali dari Karang Taruna RW 4 Kedung Kandang, adalah salah satu yang merasakan manfaat festival ini. Meski hanya dibayar tidak lebih dari Rp 1 juta, sekadar untuk ongkos transportasi 25 anggota, mereka memperoleh banyak kenalan dan dengan demikian berkesempatan ditanggap. ”Biasanya kami ditanggap untuk kawinan, tarifnya antara Rp 1 juta-Rp 1,5 juta,” kata Ketua Karang Taruna RW 4 Kedung Kandang M Wahid.

Banyak kritik dari pengunjung. Salah satunya, seperti disebut cerpenis Malang, Ratna Indraswari Ibrahim, festival ini menjadi hampir mirip pasar malam saking banyaknya orang yang berjualan. Bahkan bisa ditemui di sana gudeg Yogya serta kerak telur Betawi.

Jati diri

Bagi Dwi, ia setidaknya ingin menunjukkan satu hal. Banyak hal bisa dibanggakan rakyat Malang jika mengetahui masa lalunya. ”Kami bukan ingin sekadar bernostalgia. Kami ingin kembali pada momen atau fisik yang mengubah sejarah Malang agar masyarakat mengenal jati diri,” paparnya.

Pencarian jati diri melalui perhelatan semacam ini, menurut dosen pascasarjana Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono, adalah sebuah gejala umum. Seseorang bahkan sebuah kota akan selalu mencari akarnya untuk melegitimasi jati diri.

Bahayanya, hal ini sangat subyektif. Seolah-olah masa lampau menjadi jati diri yang paling baik untuk dirujuk. Padahal, jati diri itu adalah suatu proses sosiokultural yang terus-menerus dibentuk.

Konsep FMK bagi Djoko menjadi kurang jelas. Contohnya penggunaan gaya bahasa Melayu-Tionghoa, yang sebetulnya bukan cikal bakal nasionalisme, apalagi dikaitkan dengan jati diri Malang. Kata-kata seperti ”Boeat Pendoedoek Seantero Negeri” yang dipajang di baliho adalah gaya Melayu-Tionghoa.

Jika ingin mengaitkan sejarah dengan jati diri Malang, pemakaian bahasa walikan justru lebih tegas. Bahasa walikan adalah kata yang dibaca terbalik dari belakang. Misalnya arek malang menjadi kera ngalam. Saya tidak ngerti menjadi ayas kadit itreng. Saya tidak gelem (mau) menjadi ayas kadit meleg.

”Bahasa walikan ini bukan bahasa Jawa, bisa bahasa apa saja. Bahasa ini tidak dipakai pada tingkat leksikal, tapi sintaksis. Ada prinsip musikalitas dalam satu kata atau kalimat,” papar Djoko. Bahasa ini populer pada tahun 40-an dan lahir dari kalangan penjambret dan preman sebagai bahasa sandi. Bahasa ini kemudian meluas menjadi kekhasan Malang.

Jadi, apa sebenarnya jati diri Malang? Ratna Indraswari dan Djoko Saryono sama-sama menyebut egalitarianitas dan inklusivitas. ”Malang saat ini adalah sebuah komunitas baru yang sepenuhnya modern. Komunitas Malang bukan entitas etnik, tapi sebuah komunitas yang plural, cair, egaliter, yang biasa disebut sebagai Malangan,” jelas Djoko.

Semua etnis bisa masuk sebagai komunitas Malangan, misalnya dari Madura, Bali, bahkan Sunda. Karena masyarakat Malang sangat toleran, semua etnik bisa dengan mudah masuk dan menjadi seorang Malangis.

Itulah mengapa Ratna betah di Malang. ”Saya masih merasa sebagai a big child di sini,” ucapnya.

Osi ae….(iso ae, bisa saja)….

Source : http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/25/00380896/kerbau.itu.dikira.kambing

Cartoon About The "BLT"






Source :http://www.kompas.com/kompascetak.php/kartun
(Click to resize)

Testament Plan to Arrange A Concert in Jakarta

I've just visited Testament Official Website and on the tour section i read that they want to arrange a concert in Jakarta on September.



September 2008:
09/17/08 Senayan Indoor Tennis - Jakarta, Indonesia
09/25/08 The Arena - Brisbane, Australia
09/26/08 The Hi-Fi - Melbourne Australia
09/27/08 The Metro - Sydney, Australia

I was a fan of Testament until the Practice What Your Preach Album, after that i never collect their songs again. I impressed with their lead guitarist, Alex Scolnick. After I read their biography it is obvious that Alex Scolnick join back to the group. All I know is he was resign from the group several years ago. I am considering to watch their concert in Jakarta.

A brief about Testament from wikipedia.

Testament is an American thrash metal band from California. Being one of the more influential American thrash metal bands, they were perhaps the most popular band of that scene to not break into the mainstream and see the success that the bands known as the "Big Four of Thrash" (Anthrax, Megadeth, Metallica and Slayer) did. Some of their records nonetheless entered the charts in major markets such as the United Kingdom and Germany. Testament has two Top 40 albums and one Top 50 album to its credit in the UK. Their 1999 album The Gathering also entered the Top 50 in Germany. They had minor top 100 album success in the United States.

First decade
Testament was formed in the San Francisco area in 1983 by guitarist Eric Peterson and his cousin, Derrick Ramirez, also a guitarist, originally using the name Legacy. The band soon recruited bassist Greg Christian, drummer Mike Ronchette, and vocalist Steve Souza. Ramirez was subsequently replaced by guitarist Alex Skolnick, who had studied under bay-area guitarist Joe Satriani. The band released one self-titled 4 song demo in 1986. Ronchette left shortly after the recording and was replaced by Louie Clemente. Steve Souza subsequently left the band to join Exodus, and suggested that Chuck Billy should replace him on lead vocals. While recording their first album, the band was forced to change their name to Testament (which, according to Maria Ferrero in the May 2007 issue of Revolver, was suggested by Billy Milano of S.O.D.) because "The Legacy" was already trademarked by a jazz band.

Testament's first album, The Legacy, was released in 1987 on Megaforce Records. Testament received instant fame within thrash circles and were often compared with fellow bay-area thrash pioneers Metallica. The band quickly managed to increase their exposure by heading out on a successful tour of America and Europe with Anthrax, who were then touring in support of their Among the Living album. On this tour the Live at Eindhoven EP was recorded.

The next album, The New Order, was released in 1988, and found the band continuing in a similar vein. After another successful world tour the band headed back into the studio to record Practice What You Preach. Released in 1989, the album minimized the occult and gothic themes found in the lyrical content of their first two albums, instead focusing on real-life issues such as politics and corruption. The album was the band's most popular to date and even MTV took notice, giving the title track extensive airplay on Headbanger's Ball.[citation needed]

However, Testament would never be able to equal the success they found with Practice. In 1990, Souls of Black was released to mixed reviews and slow album sales. Attempting to reconnect with an audience distracted by the growing grunge movement, Testament released The Ritual in 1992. The Ritual saw a stylistic move away from thrash to a slightly more traditional heavy metal sound. Sales were poor and the band began to implode.[1]

Changes in formation
Alex Skolnick
Alex Skolnick

The next two decades were marked by a series of changes in the formation of the band, followed by a change of pace in its musical style. Lead guitarist Alex Skolnick and drummer Louie Clemente, who had begun to involve more mainstream thinking which did not jibe with Peterson, Billy, and Christian's traditional thrash preferences, as a result of this clashing, left soon after The Ritual's release. Skolnick would subsequently leave to temporarily join Savatage. Drummer Louie Clemente moving towards a more stable non-musical career, whereas Peterson and Billy wanted Testament to become more metal, not less.

In 1993, Skolnick and Clemente were temporarily replaced by Glen Alvelais and Paul Bostaph respectively, both of the thrash band Forbidden. This lineup released the 1993 live EP, Return to Apocalyptic City. Soon after, Alvelais quit the band and Paul Bostaph departed to join Slayer. 1994's Low, featured John Tempesta on drums and death metal guitarist James Murphy, formerly of Disincarnate, Death, Cancer, and Obituary. Low was a diverse album, featuring various influences such as death metal, groove metal, and as well as a ballad: "Trail of Tears". The band's remaining fans reacted favorably to Low although it did little to expand Testament's fanbase. Some fans, however, viewed Testament's move away from the mainstream as a liberation that allowed them to expand artistically, not being pressured by sales and success as they once were. Tempesta left after the recording of the album, being replaced by Jon Dette for the following tour. After their 1994-1996 tour, Greg Christian, James Murphy Jon Dette departed the band. Dette departed to join temporarily join Slayer to replace Bostaph, a former member of Testament. Dette's temporary replacement was Chris Kontos, formerly of Machine Head and he featured on the 1996 club tour.

The band's follow-up album, Demonic, released in 1997, took a new approach, and found Testament experimenting with death metal more. The album featured Eric Peterson on both lead and rhythm guitar (although Glen Alvelais made a guest appearance, and played on the subsequent tour), early member Derrick Ramirez on bass guitar, and former Dark Angel drummer Gene Hoglan. Hoglan left before the tour to join Strapping Young Lad, with once again Jon Dette returning to tour. By 1999, Ramirez and Alvelais had departed and James Murphy had returned for the release of The Gathering. The rhythm section on The Gathering was highly respected, consisting of metal fretless bass pioneer Steve DiGiorgio (formerly of Death and Sadus) and original Slayer drummer Dave Lombardo. The sound of the album was largely a combination of death metal, thrash metal, and a minor black metal influence from Eric Peterson's side project, Dragonlord.

Soon after the release of The Gathering, lead guitarist James Murphy was diagnosed with a brain tumor. Through various fundraisers, Murphy was able to afford surgery and eventually made a full recovery. Nevertheless, he now cannot recall anything from the recording of The Gathering. In 2001, Chuck Billy was also diagnosed with cancer which was treated successfully. In August of 2001, friends of Billy organized the Thrash of the Titans benefit concert, featuring seminal Bay Area thrash bands Vio-Lence, Death Angel, Exodus, Heathen, and others. The show was headlined by a Legacy reunion, featuring Steve Souza on vocals, and former guitarist Alex Skolnick, who had not played with the band since 1992 and Greg Christian. Late in 2001, Testament released First Strike Still Deadly, a collection of re-recordings (with modern studio technology) of songs from their first two albums. The album featured the lineup of Billy, Peterson, DiGiorgio, the return of Alex Skolnick on guitar and John Tempesta on drums.

[edit] Recovering of Billy, reunion and new album
Chuck Billy
Chuck Billy

By 2003 Chuck Billy had completely recovered, and the band began performing live again with a new drummer, John Allen of Sadus. In 2004, the band changed their lineup once again for their summer festival live appearances, and John Allen was replaced by Paul Bostaph, returning to the band for a second stint after a decade's absence. Lead guitarist Steve Smyth also departed to join Nevermore, and was replaced by ex-Halford guitarist "Metal" Mike Chlasciak. Ironically, shortly after Steve Smyth's departure, Eric Peterson fell down a flight of stairs, breaking his leg, and was unavailable for some dates. He was temporarily replaced by Steve Smyth.

In May 2005, it was announced that Testament would be doing a brief Europe-only reunion tour - known as the "10 Days in May Tour" - featuring the original lineup of Billy, Peterson, Skolnick and Christian, with drum duties shared between John Tempesta and Louie Clemente. After the success of the initial tour dates, Testament announced more dates in the US, Europe and Japan with the classic lineup. Alex has also been touring the East Coast with the Trans-Siberian Orchestra.

Testament played for the first time in the Middle East at the Dubai Desert Rock festival in March 2006. Other notable bands that performed for the Desert Rock Festival were Iron Maiden, Megadeth and 3 Doors Down.

Testament released their new album, titled The Formation of Damnation, on April 29, 2008. Their first proper studio album in 9 years, it is the first Testament album to feature Alex Skolnick on guitar since 1992's The Ritual, also the first to feature bassist Greg Christian since 1994's Low. Interviews on the Live In London DVD suggest that a follow-up to The Formation of Damnation may be written with the classic album lineup. Eric Peterson did say that Skolnick has been writing songs for the new album, which confirms this [2] . They have recently signed to Nuclear Blast Records .[3]

In July 2007, the band played a show at Jaxx Nightclub in Springfield, VA, with Paul Bostaph filling in on drum duties. It was later confirmed that Bostaph would be officially returning to the band to record the new album. The band debuted a new song at that show, currently entitled "The Afterlife"[4], which they also played again at Earthshaker Fest.

In February 2008, the band released the song "More Than Meets The Eye" from the new album on their Myspace page.

In April 2008, Testament was confirmed for Ozzy Osbourne's Monsters of Rock festival to take place on July 26, 2008 in Calgary, Canada.[1]

Also, the band was confirmed to be the main event on the first day of the "Gillmanfest," a rock festival to be held on May 24th, 2008, in Valencia City, Venezuela. Testament will also be touring the U.S., as a supporting act for Judas Priest, Heaven and Hell, and Motorhead.

[edit] Members

Testament has had numerous lineup changes, and Eric Peterson and Chuck Billy have been the only constant members.

[edit] Current members
Nick Barker
Nick Barker

* Chuck Billy - Vocals
* Eric Peterson - Guitar
* Alex Skolnick - Guitar
* Greg Christian - Bass
* Paul Bostaph - Drums

[edit] Former members

* Nick Barker - Drums
* Louie Clemente- Drums
* John Tempesta - Drums
* Dave Lombardo - Drums
* Gene Hoglan - Drums
* Glen Alvelais -Guitar
* Derrick Ramirez - Bass/Guitar/Vocals (was also in the band when they went under the name Legacy. Did the guitar and vocal duties on their first demo)
* James Murphy - Guitar
* Jon Allen - Drums
* "Metal" Mike Chlasciak - Guitar
* Steve "Zetro" Souza - Vocals (when they went under the name Legacy. Did the vocals on their second demo)
* Jon Dette - Drums
* Steve Smyth - Guitar
* Steve DiGiorgio - Bass
* Chris Kontos - Drums
* Mike Ronchette - Drums

Steve Jacobs - Touring drummer, South American leg of the Demonic tour 1997 and Japanesse leg of the Gathering tour 1999